Timothy
Doner adalah seorang mahasiswa di universitas Harvard dan seorang poliglot
yaitu orang yang dapat berbicara beragam bahasa. Dia mulai belajar beragam
bahasa ketika berumur tiga belas tahun setelah beberapa tahun mempelajari
bahasa Prancis dan bahasa Latin. Dia tertarik untuk
mempelajari berbagai bahasa ketika berumur tiga belas tahun. Bahasa ibunya
adalah bahasa Inggris karena dia lahir dan besar di Amerika Serikat. Bahasa
asing yang pertama dipelajarinya adalah bahasa Prancis. Dia memulai belajar
bahasa Prancis ketika berumur delapan tahun. Bahasa Latin juga dia pelajari
ketika dia duduk di bangku sekolah kelas tujuh.
Istilah
umum yang digunakan untuk menyebut orang dengan kemampuan berkomunikasi dengan
banyak bahasa adalah polyglot. Poliglotisme adalah kemampuan menuturkan
beberapa bahasa dengan sangat mahir. Belum ada kesepakatan mengenai berapa banyak
bahasa yang harus dikuasai seseorang agar bisa disebut poliglot. Ada yang
menetapkan empat atau lebih, karena penutur dua atau tiga bahasa biasanya
disebut dwibahasa (bilingual) dan tribahasa (trilingual). Istilah multibahasa juga mirip dengan poliglot.
Salah
satu hal yang membuatnya dikenal oleh banyak orang di berbagai negara adalah
video yang diunggah olehnya pada channel youtubenya pada tahun 2012. Disana dia
berbicara dua puluh bahasa termasuk bahasa Indonesia. Menurutnya kemampuannya
dalam dua puluh bahasa itu beragam ada yang masih pemula, menengah, dan mahir.
Video itu telah disaksikan sekitar tiga juta viewer pada tahun 2016. Di video
itu juga dia menceritakan tentang pengalamannya ketika mempelajari bahasa –
bahasa tersebut.
Timothy
Doner tampil di berbagai acara televisi seperti dan pernah menjadi tamu di
acara televisi dan radio dan menjadi subjek koran dan artikel online. Dia juga
pernah tampil sebagai juru bicara pada acara Ted X, sekumpulan eksekutif Apple,
dan di depan sekitar 25.000 audiens di Orlando, Fla.
Sebagian besar bahasa
yang dapat dituturkan oleh Timothy Doner berasal dari tempat-tempat yang tidak
begitu umum seperti Pashto (bahasa resmi Afghanistan) atau Swahili (lingua
franca di sebagian besar daerah di Afrika Timur). Selain itu Tim dapat
berbicara bahasa Yiddish karena kakek dan neneknya dapat berbicara sedikit.
Bahasa Prancis adalah
bahasa asing pertama yang dia pelajari selain itu ada bahasa asing lain yang
dia anggap sebagai bahasa asing kedua yang dapat dia tuturkan dengan lancar
yaitu bahasa Ibrani. Dia tertarik dengan konflik Israel – Palestina. Dia ingin
memahami lebih dari sekadar apa yang ditulis dan dikabarkan di media. Jadi dia
mulai mendengarkan lagu hip – hop dalam bahasa Ibrani, menangkap kalimat pada
lirik lagu dan mempelajari tata bahasa Ibrani. Waktu berjalan, kini Tim dapat
memakai bahasa Ibrani dengan lancar. Dia pernah menegur pelanggan di restoran
dengan bahasa Ibrani.
Seiring bertumbuhnya kemampuan dalam bahasa Ibrani, dia tertarik dengan bahasa lain yaitu bahasa Arab. Musim panas sebelum kelas sembilan, Doner menghadiri program bahasa Arab di Universitas Brigham Young di sebelah barat Amerika Serikat. Belajar Bahasa Arab lahir dari minatnya dalam bahasa Ibrani dan budaya dan sejarah Timur Tengah. Dari bahasa Arab, dia pergi ke aspek yang lain. Tim belajar di kelas bahasa Arab selama tiga minggu. Dia belajar bahasa Arab formal pada pagi hari dan sedikit bahasa Arab Mesir pada sore hari. Dia belajar budaya Arab dan alfabet arab. Pada program itu ada pengajar dari berbagai negara Arab seperti Mesir, Aljazair, Maroko, Suriah, dan lain – lain. Setelah kembali ke New York, dia belajar bahasa Arab secara privat dengan pengajar dari Mesir.
Keberanian beliau?
Berawal dari keinginan untuk mempelajari beragam
bahasa, Tim belajar baik di kelas maupun belajar sendiri. Dia juga tidak segan
untuk menyapa orang di jalan yang merupakan penutur asli bahasa yang sedang Tim
pelajari. Ketika di dalam kereta, dia pernah melihat beberapa orang sedang
bicara dengan bahasa Persia. Tim tidak segan untuk mendatangi mereka dan
berbicara dengan mereka dengan bahasa Persia. Dia tidak takut untuk mencoba
berbicara dengan orang lain, melatih kemampuan bahasanya. Walaupun dia juga pernah membuat kesalahan ketika berbicara, hal
itu bukan menjadi penghalang untuk terus melatih kemampuan bicara bahasa asing.
Tim
senang berbicara dengan topik apapun. Dia mencoba bicara dengan orang – orang
dengan berbagai etnis dan budaya untuk memahami pandangan mereka terhadap
sesuatu dan menggunakan kemampuan bahasanya. Walaupun sering menggunakan bahasa
Inggris, tetapi poin yang dicapai adalah memahami orang – orang dan mendapat
eksposur. Dia tidak bicara bahasa Urdu dengan fasih tetapi dengan latihan dan
berkomunikasi, dia bisa mendapatkan kosa kata baru.
Berjalan
di kota New York, Tim sering melihat papan iklan bahasa Tionghoa atau Spanyol,
toko buku bahasa Rusia, restoran India, pemandian umum Turki, dan sebagainya.
New York adalah salah satu kota yang mana ada banyak budaya dari penjuru dunia
sehingga ada banyak bahasa yang dapat terdengar. Tim menggunakan kesempatan itu
untuk berbicara dengan banyak orang dengan bekal kemampuan bahasanya, kosa kata
yang terbatas, dan tekad yang kuat. Dia mengatakan bahwa dia sering salah
mengucapkan kata atau pengucapan yang bisa saja membuatnya malu di depan orang
– orang. Namun, Tim menikmati saat – saat itu karena dia suka berbicara dengan
orang lain.
Tim
datang ke restoran Arab dan mendatangi orang Arab disana yang sedang menikmati
hookah. Hookah di Indonesia lebih sering disebut dengan shisha. Hookah adalah
suatu pipa air yang digunakan untuk menghisap tembakau melalui air dingin.
Nikotin dipanaskan di dalam wadah seperti mangkok yang terletak di bagian atas
hookah dan asapnya disaring melalui air di bagian bawah hookah. Nama lain
hookah antara lain water pipe, goza, hubble-bubble, borry, archile dan
narghile. Karena ketertarikannya dengan budaya timur tengah, Tim mengajak
bicara orang – orang tersebut terkait bagaimana hubungan orang muslim dengan
orang kristen di negara Arab.
Ketika
naik taksi, Tim berbicara dengan supir yang merupakan penutur bahasa Prancis.
Tim membuat kaget supir ketika dia tahu bahwa Tim dapat berkomunikasi dengan
dua puluh bahasa. Tim juga datang ke toko buku dan berbicara dengan bahasa Urdu
di sana. Walaupun Tim belum bisa berkomunikasi dengan fasih dan menggunakan
bahasa Inggris dan bahasa Urdu, dia mendapatkan kosa kata baru. Tim datang ke
tempat – tempat lain untuk melatih kemampuan bicaranya.
Hidup di daerah dengan beragam bahasa yang dapat didengar membuat Tim dapat bertemu dengan banyak orang baru setiap hari, baik di dalam kereta, taksi, bis, di toko buku, restoran, toko peralatan elektronik, toko musik, film, bioskop, dan di tempat – tempat umum lainnya. Keberaniannya untuk mendatangi orang – orang untuk sekadar berkomunikasi membuat kemampuannya semakin terasah.
Imajinasi
beliau?
Tim
menyadari bahwa ada keterkaitan antara budaya dengan bahasa. Untuk memahami
orang – orang dengan latar belakang yang berbeda, seseorang perlu memahami apa
pandangan mereka terhadap sesuatu yaitu dengan memahami bahasa yang mereka
pakai. Itu yang Tim ingin dicapai oleh Tim yaitu dengan memahami orang – orang
dengan latar belakang yang berbeda.
Arti
dari bahasa tertentu mewakili budaya dari kelompok sosial tertentu. Untuk
berinteraksi dengan bahasa berarti untuk melakukannya dengan budaya yang titik
referensi. Kita tidak bisa memahami budaya tanpa memiliki akses langsung ke
bahasa nya karena hubungan intim mereka. Belajar bahasa, oleh karena itu, tidak
hanya belajar abjad, makna, aturan tata bahasa dan susunan kata-kata, tetapi
juga belajar perilaku masyarakat dan adat budaya.
Komunikasi
manusia itu kompleks, karena pesan disampaikan melalui bahasa sehingga
komunikasi dengan orang-orang dari masyarakat atau kelompok etnis lain dapat
terjadi kesalahpahaman, jika budaya diabaikan. Tumbuh di masyarakat tertentu, kita informal belajar bagaimana menggunakan
gerak tubuh, tatapan, sedikit perubahan dalam nada atau suara, dan perangkat
komunikasi tambahan lain untuk mengubah atau untuk menekankan apa yang kita
katakan dan lakukan. Kita belajar teknik-teknik khusus budaya ini selama
bertahun-tahun, sebagian besar dengan mengamati dan meniru.
Masalahnya terletak pada apa yang terjadi ketika interaksi lintas
budaya berlangsung, yaitu, ketika produser pesan dan penerima pesan berasal
dari budaya yang berbeda. Kontak antara budaya meningkat dan komunikasi antar
budaya sangat penting bagi siapa pun yang ingin bergaul dengan dan memahami
orang-orang yang keyakinan dan latar belakang mungkin sangat berbeda dari
mereka sendiri.
Bahasa dapat menandai identitas budaya, tetapi juga digunakan untuk
merujuk kepada fenomena lain dan merujuk melampaui dirinya sendiri, terutama
ketika pembicara tertentu menggunakannya untuk menjelaskan maksud. Sebuah poin
bahasa tertentu dengan budaya dari kelompok sosial tertentu. Oleh karena itu
kita dapat menganggap bahwa pembelajaran bahasa adalah belajar budaya, sehingga
pengajaran bahasa adalah ajaran budaya karena saling ketergantungan bahasa dan
pembelajaran budaya.
Ada
keterkaitan antara bahasa dengan budaya dan bahasa dengan pikiran. Contohnya
seperti yang diulas oleh Tim pada acara Ted X yaitu budaya taarof. Taarof yaitu
budaya yang mana dua orang saling berbicara dan keduanya mencoba untuk
bertingkah lebih rendah hari daripada yang lain. Salah satu contoh dari taaruf
bisa digambarkan adalah pemberian undangan dan jasa di masa depan yang
menjanjikan terutama untuk orang asing atau kerabat jauh dan mengharapkan
mereka untuk tidak mengambil tawaran itu dan tetap menolaknya. Seorang penjaga toko awalnya mungkin menolak untuk menawarkan harga suatu barang,
menunjukkan bahwa barang itu tidak berharga ("ghaabel nadaareh"). Taarof
mewajibkan pelanggan untuk bersikeras membayar, mungkin beberapa kali (tiga
kali), sebelum pemilik toko akhirnya memberitahukan harga dan negosiasi yang nyata
dapat dimulai.
Untuk ungkapan terima kasih
misalnya orang Iran sering mengucapkan “gharbanet beram” yang secara literal
artinya semoga aku mengorbankan hidupku untukmu. Hal itu terdengar puitis namun
itu adalah sesuatu yang seseorang harus pahami tentang budaya mereka.
Senang beliau?
Sebagai seorang polyglot yang dapat berbicara banyak bahasa, Tim memiliki
passion yang besar untuk mempelajari bahasa – bahasa. Senang adalah salah satu
kunci untuk mempelajari sesuatu dengan lebih baik. Sama
halnya dengan rasa senang sesama teman. Jika dari awal sudah menanamkan rasa
senang di dalam hati, rasa antusias akan muncul ketika belajar banyak bahasa.
Dengan antusiasme dan rasa senang itu, pelajaran akan semakin mudah masuk ke
dalam memori. Berbeda halnya jika di dalam diri tidak timbul rasa senang. Baik
bahasa asing yang berada di dalam lirik lagu hingga berita atau film kartun
yang menggunakan bahasa asing. Bertemu dengan orang asing (native speaker) pun
akan menjauh karena berdekatan dengan mereka akan menimbulkan rasa enggan
karena perbedaan bahasa tidak bisa saling berbicara. Rasa enggan belajar
semakin mendukung untuk sulit mahir bahasa asing.
Ada beberapa bahasa
yang Tim pelajari secara otodidak. Dia telah memiliki instruksi formal hanya
dalam bahasa Arab, Persia, Perancis, Mandarin dan sedikit bahasa Jepang, Ibrani
dan Swahili. Orang lain (seperti Rusia, bahasa keras dia berbicara dengan nyaman)
adalah otodidak. Dia berusaha keluar kesempatan untuk berlatih bahasa yang
kurang umum, seperti Ojibwe dan Wolof, di Skype, dan menemukan banyak sopir
taksi New York untuk berbicara Hausa.
Dia senang menghafal lirik pop dan menonton film. Dia hampir mendiami
bahasa dia berbicara; sebagai kolega mengatakan melihat videonya, "ia
mengangkat bahu seperti Prancis dan mengerutkan kening seperti Rusia."
Kebanyakan dari semua, itu jelas berapa banyak ia menikmati berbicara bahasa
dengan orang lain, tidak hanya belajar mereka untuk tujuan terjemahan atau
membaca (atau membual).
Dia mencintai sejarah, motivator besar dalam belajar bahasa nya.
motivasi Doner untuk studi ekstensif ini bervariasi dari bahasa ke bahasa,
tetapi fokus menyeluruh nya adalah budaya. Setelah video yang dia rekam pada
tahun 2012 ditayangkan di youtube, dia memiliki banyak kesempatan untuk bertemu
banyak orang yang berbeda dan dia masuk ke dalam berita baik televisi maupun
koran. Dia sering mendapat pesan di media facebook, youtube, dan paltform
lainnya. Selain itu Tim mendapat banyak pertanyaan dari banyak orang.
Pertanyaan itu seputar bagaimana Tim belajar bahasa, bisakah Tim mengajari
bahasa Inggris, atau pertanyaan lain yang spesifik seperti bisakah Tim
menjelaskan ini atau bisakah Tim menjelaskan bagaimana cara mengucapkan ini
atau itu.
Tim lebih suka berbicara tentang latar belakang budaya dan interaksi bahasa
dan ketika diberi kesempatan untuk menjelaskan bahwa ia menganggap dirinya
fasih berbahasa sekitar lima atau enam bahasa yaitu bahasa Perancis, Persia,
Arab, Ibrani, dan Jerman. Dia dengan rendah hati menjelaskan bahwa dia akrab,
fasih, atau terlibat dalam sekitar lima belas lebih, mulai dari Indonesia dan
Pashto, Ojibwe yaitu bahasa asli Amerika, dan beberapa bahasa Afrika termasuk
Afrika Xhosa Selatan, yang dia pillih terutama "karena klik. "
Sebelum belajar bahasa apapun, pahami motivasi untuk belajar. Jika belajar
untuk kemajuan karir atau untuk mendapatkan nilai yang baik di sekolah,
kemungkinan tidak akan menjadi sangat baik dalam hal itu. Alasan
mengapa Tim dijemput Ojibwe (bahasa penduduk asli Amerika) karena dia berkata
bahwa Ojibwe tidak seperti apa yang pernah dia dengar dan alasan mengapa ia mengambil Farsi karena
ia terpesona oleh keindahan puisi Persia . Putuskan apa yang tulus, motivasi
sejati adalah mempelajari bahasa,motivasi untuk melampaui tantangan -
tantangan.
Aksi beliau?
Tim mulai mempelajari bahasa pada usia tiga belas. Dia tertarik
dengan Timur Tengah dan mulai belajar bahasa Ibrani sendiri namun untuk
beberapa alasan dia masih tidak mengerti. Dia kecanduan kelompok funk Israel
Hadag Nachash, dan mendengarkan album yang sama setiap pagi. Pada akhir bulan,
Tim telah hafal sekitar dua puluh lagu mereka – meskipun dia tidak tahu apa
yang mereka maksud. Tapi setelah belajar terjemahannya hampir seolah-olah dia
telah mengunduh kamus ke kepala. Sekarang dia tahu beberapa ratus kata bahasa
Ibrani dan frase bahkan dia tidak harus membuka buku pelajaran. Tim lalu
bereksperimen. Dia menghabiskan berjam-jam berjalan di sekitar lingkungan New
York City, mengunjungi kafe Israel untuk menguping percakapan orang.
Kadang-kadang dia memberanikan diri untuk memperkenalkan diri, menata ulang
semua lirik lagu di kepala hingga menjadi kalimat baru, canggung dan
kadang-kadang benar. Ternyata, hal itu mengarah kepada sesuatu.
Setelah cukup belajar bahasa Ibrani, Tim pindah ke bahasa Arab. Tim
menghadiri program bahasa Arab di Universitas Brigham Young di sebelah barat
Amerika Serikat. Tim belajar di kelas bahasa Arab selama tiga minggu. Dia
mempelajari dasar bahasa Arab formal dan salah satu dialek yaitu bahasa Arab
Mesir. Tim tahu bahwa dia dapat belajar bahasa – bahasa sebagai hobi. Setelah
kembali ke New York, dia belajar bahasa Arab secara privat dengan pengajar dari
Mesir dan setiap minggu mengobrol melalui aplikasi Skype. Selain itu, Tim
belajar setiap pagi dengan membaca berita utama dengan kamus dan dengan
berbicara dengan pedagang kaki lima. Tim juga datang ke restoran Arab untuk
latihan bahasa Arab.
Setelah itu Persia, Rusia, Mandarin dan sebagainya. Tim mempelajari lebih
banyak bahasa dengan buku tata bahasa, melihat acara televisi, berbicara dengan
penutur asli. Tim juga merekam dirinya ketika berbicara beberapa bahasa yang
dia pelajari, memberi subtitle, dan mengunggah ke youtube. Pada hari biasa, Tim
menggunakan Skype dengan teman-teman dari negara lain seperti Perancis dan
Turki, mendengarkan musik pop Hindi selama satu jam dan makan malam dengan
sebuah buku Yunani atau Latin di depan laptop. Bahasa menjadi obsesi, salah
satu yang saya kejar di kelas musim panas, sekolah, forum web dan pertemuan bahasa
atau meet-up di sekitar kota.
Salah satu teknik yang dipakai oleh Tim adalah Method of Loci atau
secara teknis Locurum yaitu teknik yang memakai mnemonic atau jembatan keledai.
Ilustrasinya adalah seseorang ingin menghafal delapan kata bahasa Spanyol. Kata
– kata itu diambil dan mengintegrasikannya ke dalam memori spasial. Seseorang
berada di taman. Dia menutup mata sambil membayangkan dia berada di taman itu.
Dia berjalan menyusuri taman, berjalan adalah caminar, lalu belok dan duduk di
bangku taman, duduk adalah sentarse. Berjalan ke arah penjual es dan membeli es
untuk diminum, jual adalah vender, beli adalah comprar dan minum adalah beber.
Dia bisa melihat ada seorang wanita menyanyi, nyanyi adalah cantar. Tiba - tiba hujan turun sehingga dia berlari ke arah
gedung, lari adalah correr. Di seberang gedung ada penjual kebab dan dia merasa
lapar. Dia membeli kebab lalu dimakan. Makan adalah comer. Teknik itu membuat
Tim dapat menghafal sesuatu lebih baik.
Teknik lain yang dipakai Tim untuk menghafal kosa kata yaitu dengan
menghafal beberapa kata yang dapat membuatnya ingat dengan kata yang lain. Bisa
dari kata – kata yang tidak berhubungan seperti archivo (arsip), arroz (nasi),
arte (seni). Ketiga kata itu berawalan ar yang bersuara sama pada awal
pengucapan. Ketika seseorang mendengar kata archivo, dia akan mengingat dua
kata selanjutnya. Kata – kata yang berhubungan seperti mentir (berbohong),
mentira (kebohongan), mentiroso (pembohong). Tim lebih mudah menghafalkan kosa
kata dengan bunyi yang mirip seperti itu.
Secara umum Tim mencoba banyak mendengar sebisanya, melihat hal –
hal baru seperti berita, mendengar program acara di televisi seperti berita,
musik, serial televisi dan lain sebagainya. Tim membuat senyaman dan senormal
mungkin. Tim belajar dengan metode yang dia anggap rileks dan nyaman dan dia
suka melakukan sesuatu dengan menghubungkan bahasa ke dalamnya seperti membaca
koran dengan bahasa yang berbeda pada satu hari. Ketika dia bepergian ke negara
lain dan bertemu dengan sesama polyglot, percakapan campur bahasa juga bisa
terjadi. Tim pernah berbicara bahasa Inggris yang dicampur dengan bahasa Jerman
dan Belanda atau bahasa Arab dengan Turki. Untuk saat ini Tim kemungkinan sudah
belajar lebih banyak bahasa sejak video itu diunggah ke youtube. Bahasa –
bahasa yang baru – baru ini dia pelajari adalah bahasa Amharic dan Vietnam.
Kemungkinan dia akan mempelajari lebih banyak bahasa di masa depan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar